Sebelum nulis cerita ini saya sudah baca blog2 yang me-review tentang pilem ayat2 cinta ini. Akhirnya kepikir untuk menaikkan hits blog saya dengan menulis tulisan ini.hahahaha… .
Banyak yang bilang klo pilem ini beda sama novelnya. Ada juga yang bilang klo pilemnya ngumbar maksiat soalnya ada saat dimana fahri sama aisyah ciuman, ada juga yang bilang pemeran pilem ini gak pantas karena beda sama kelakuan mereka sehari2,
buat saya sih biasa aja. Saya belum baca novelnya (abis tebel banget, jadi males bacanya), tapi kemaren liat bajakannya yang buat hanung sampe marah2 akhirnya ngajuin premiernya (maap bang hanung). Overall ceritanya bagus (tanpa dibandingkan dengan novelnya).
Dan yang pasti, kontroversi pilem ayat2 cinta ini akam membuat pilem ini laris dipasaran. Karena orang2 akan banyak yang penasaran dengan kontroversinya.terutama yang uda baca novelnya. Dan mungkin juga yang nyebarin bajakan itu awalnya adalah hanung sendiri sang sutradara. Dia sadar klo tu pilem berbeda dengan novelnya.
Strategi marketing yang pertama dia buat adalah mengundur2 tu pilem. Yang rencananya klo gak salah awal desember 2007. trus diundur…diundur…dan diundur. Akhirnya muncul tanggal 28 pebruari sebagai tanggal premier ni pile. Tapi seminggu sebelumnya kok udah ada bajakannya? Dan kabarnya yang bajakan malah versi yang belum dipotong/diedit. Dan akhirnya banyak muncul kontroversi sebelum pilem itu terbit. Dan akhirnya banyak orang penasaran









Maret 1, 2008 pukul 7:51 am
Saya belum lihat filmnya, jadi nggak tahu mana yang beda.
Maret 1, 2008 pukul 11:56 am
wew… kapan negeri ini bebas dari bajak-membajak, yak! gimana tuh apresiasi terhadap karya para sineas kita. kok demikian gampangnya orang lihat ayat2 cinta padahal belum resmi diputar. *halah*
Maret 1, 2008 pukul 12:48 pm
yah.. yah.. overall bagus, walau ada beberapa yang agak tidak pas…
Maret 1, 2008 pukul 12:49 pm
karena kultur asli bangsa ini adalah agraris dan membajak sawah, maka pembajakan adalah lumrah ?????
Maret 1, 2008 pukul 4:29 pm
males nonton, ngapain. mending nonton film perang.
Maret 1, 2008 pukul 7:42 pm
ngakak baca komentarnya gempur
Maret 2, 2008 pukul 1:44 am
Biasa aja, dan saya punya pendapat tidak mesti sama dengan isi novel. Lebih menarik lagi kalau make pola terbalik orang nonton filmya dulu, kemudian baca novelnya. Mungkin rasanya akan beda.
http://danummurik.wordpress.com
Maret 2, 2008 pukul 3:13 am
aQ udah nonton flim n bc novelnya…yah…bisa dibilang aQ agak sedikit kecewa, soalnya mmg koq kayaknya agak bedda y?? Lebih asyik bc novel-nya aj…selesi nonton kmrin, aQ lgsung baca lg novel-nya (mengembalikan citra bagusnya Ayat2 cinta di kelapa gue) hhehe…But scr keseluruhan sebenranya flim-nya sich bagus jg (klo seandainya blm bc novelnya)
Maret 2, 2008 pukul 6:23 am
kalo boleh saya bilang yang mbajak tuh film gila!
soalnya nga tanggung2,master tape nya yang di bajak
kalo bajakan yang kayak biasanya sih saya rasa nga masalah!
lha wong sudah jadi kebudayaan kalo hal bajak menbajak di indonesia! hehehe
tapi kenyataan nya yang di bajak itu master tape nya, aje gile kan?
Maret 2, 2008 pukul 10:17 am
PERTAMASS, MAX..
buat saya nggak terlalu istimewa bukunya..
lha pelemnya.. nggak istimewa blass..
yang istimewa adalah..
MARKETING KEDUANYA…
BRRRAAVVVVOO..!
Maret 2, 2008 pukul 10:23 am
Makin penasaran nie ma pilem nya.mau ngebandìngin ma yang novel nya
Maret 2, 2008 pukul 11:22 am
belum diputar sudah dibajak.. kaciaannn benar
Maret 3, 2008 pukul 2:08 am
@ pak edi psw:
liat dulu pak, biar tau bedanya
@pak sawali:
gimana klo sineas itu sendiri yang bajak tu pilem pak, perlu apresiasi g?
@arul:
iya overall. gak pasnya dimana rul?
@pak gempur:
wah berarti yang bajak ni pilem petani ya pak?
@ressay:
bole aja kok, terserah selere
@elys welt:
ditutup klo ngakak, ntar lalat masuk lagi.
@danummurik:
wah metode baru nih
@sarahtidaksendiri:
ni metode malah aneh lagi. baca, nonton, baca
@wahyu:
bener tuh. brarti yang bajak bukan orang sembarangan, bisa jadi orang dalem sendiri
@gatho:
sepakat mas, marketingnya emang bagus banget
@hana:
ati2 banyak yang kecewa lho abis nonton pilemnya
@arsyad salam:
belum tentu mas. sapa tau malah seneng
Maret 3, 2008 pukul 3:47 am
mahma, ini cak No (temen SMA 2), hehe..
soal alasan kenapa premier film ini diundur2, kamu bisa baca blognya hanung di hanungbramantyo.multiply.com.
di situ juga ada penjelasan soal kenapa film ini beda sama cerita di bukunya.
beginul.. hwehe.. seneng akhirnya baca blog punya teman yang udah lama ga ketemu..
Maret 3, 2008 pukul 4:07 am
Hixs… ketipu judul posting…
Kalo gwa lebih suka nonton Spongebob di rumah aja, hehehe
Maret 3, 2008 pukul 5:09 am
Boleh tau dapet bajakannya di mana? Abis sempet cari ke ratu plaza belum ada tuh … hahaha
Maret 4, 2008 pukul 5:57 am
ehm , mending diserahkan sama para penonton dan pembaca novelnya , bagaimana ? setuju ?
itu saja
Maret 4, 2008 pukul 8:41 am
keren banget film nya ampe gw nangis saking terharunya. hiks. . . . .
Maret 4, 2008 pukul 9:33 am
@eno:
hai no, pakabar? thx da berkunjung di blog sederhana ini.hehehe… .
@suwahadi:
ketipu gimana?
@ari:
temen dari temen saya punya temem. lha temennya itu punya temen yang dapet tu pilem. kira2 gitulah runtutannya. klo gak salah dia donlot di net kok. bukan nyari di lapak2 cd bajakan gitu.hehehe…. .
@realylife:
setuju aja… .
@widia_imoet:
mpe segitunya… .
Maret 4, 2008 pukul 10:24 pm
Waktu aku baca novel Ayat-ayat cinta, aku betul-betul heran koq novel ini bisa jadi best seller. Pada hal menurut aku novel ini meskipun gak jelek tapi untuk di bilang the great work.. nggak juga (Sorry kang abik). Kekuatan dari novel ini hanya settingnya aja. Mesir yang eksotik dengan kehidupan mahasiswa al-azharnya.
Sebenarnya alur ceritanya oke juga tapi, menurutku kelemahan utama novel ini justru pada karakter utamanya Fahri yang seperti Superman. Penggunaan sudut pandang orang pertama (aku) semakin membuatku risih membacanya. menurutku kurang pantas jika untuk membangun citranya yang Waaah itu, Fahri harus menuturkannya sendiri…. (muji-muji diri sendiri hehehehe)
Makanya waktu diajak teman nonton filmnya aku kurang semangat. Tapi, setelah nonton, waaaah greaaaat… Aku benar-benar menyukainya. Pada hal biasanya karya tulis seperti novel ketika dibuat dalam bentuk film sering membuatku kecewa. Karena biasanya aku mengharapkan lebih dari apa yang digambarkan sutradara. Tapi untuk tokoh-tokoh dalam AAC semuanya baguuss (pas), kecuali mungkin noura dan nurul ditukar aja kali ya mas…hehehe
TWO THUMBS UP TUK MAS HANUNG, yang bikin sosok Fahri jadi lebih REALISTIS. Kalau menurut aku bagusan filmnya dripada baca novelnya.
Fedi, Rianti dan Carissa mainnya baguuus.
Aku Cuma bisa bilang, terima kasih sudah bikin karya yang bagus untuk film Indonesia
Maju terus mas hanung….
Bravo… AAC bravo… Film Indonesia
Maret 6, 2008 pukul 7:58 pm
eh lo pada keliatannya udah ropik (loro pikir) smua ya. la wong pilem kiayak gitu j kok heboh….
itu loh cuman tipuan belaka
coba bayangkan ketika bukunya yang hanya karangan j sampai pengambilan gambar dan sebagainya yang merupakan tipuan untuk para penonton.
hati2 bagi yang suka buku n pilemnya akan membuat hati menjadi lemah.
padahal yang dibutuhkan bangsa indonesia bukan orang yang bermental lemah tapi orang yang punya otak militer dan siap berperang untuk membangun bangsa ini.
ngapain kita hanya nangis2 hanya karena pilem, tapi disisi lain kita g menangis melihat keadaan masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin turun kualitas.
untuk kang abik tolong ni suara dari rakyat,bikin novel yang jangan cinta2 j,tapi bikin novel yang akan menyadarkan setiap rakyat indonesia akan pentingnya membangun bangsa ini.(ah…sepertinya dah panjang nih tulisannya)
to..be..continued………………………………….
Maret 14, 2008 pukul 9:31 pm
elekkkkk pilem e elek kkkk bagetsss
sebaiknya anda jangan tonton film-nya tapi BACA BUKUNYA, emang sih sesuatu yang diambil secara praktis itu enak.. begitu juga nonton filmnya, tapi itu juga pembodohan terhadap diri sendiri… memanjakan otak,
q gak suka banget ma film menjijikkan itu,
gak sesuai banget sama novelnya…
hey txman
dalam novel itu sebenarnya ada episode tentang tahanan para aktivis mesir… bukannya malah orang gila… sialan tuh sutradaranya… guoblok abiss… kisah cinta dalam novelnya tidak se-biasa itu,
ada getir perjalanan spiritual dalam kisa-kisi perjalanan pencarian ilmu dan cinta yang diperjuangkan oleh fahri, ada konflik yang terlihat jelas dan mengena,
sedang dalam film nya konflik di buat-buat berlebihan dan terkesan praktis… sialan mana ada fahri dipukul di atas kereta…
q bener-bener kecewa ma sutradaranya, suck film…
kenapa juga habib diam aja…. ahhh muaakkksss
Maret 15, 2008 pukul 4:11 am
Terlepas dari semua kontroversi,serta pandapat2 yang muncul.,kita harusnya mengakui bahwa film ini bagus dan menjadi oasis di tengah membanjirnya film2 horo yang ga’ jelas,ga’ mendidik,ga’ mutu lah pokoknya…
Ga’ bisa di pungkiri,banyak hal2 baru yang bisa kita ketahui dari film ini.
Two tumbs up bwt Hanung.,MD entertainment.,’n Habiburrahman el shirazy..
Maret 16, 2008 pukul 9:41 am
@fauzan:
dibanding pilem2 indonesia yang laen si emang jauh lebih baek
@txman:
wah, negara ini gak butuh orang berotak militer bung. klo kayak gitu, mending sampeyan kembali ke jaman suharto saja. sekarang negara ini butuh orang yang bisa mendengar jerit hati rakyat. tapi klo parameternya dari nonton pilem cengeng jadinya gak jelas.
@strezz:
tenang strezz, klo semua dibuat mirip, ntar pilemnya panjangnya 4 jam.hehehe…. .
@deesya:
emang bagus si. tapi strategi marketingnya itu lho… .
Maret 27, 2008 pukul 7:56 am
AAC emang merupakan sebuah fenomena baru yang timbul di bangsa kita. aq sadar bahwa in terlepas dari persoalan islam or non nya aj yang membikin fenomena di jati diri bangsa ini. krna kta tahu klo film ini adalah sesuai dengan jati diri kita..
teringat dengan film AADC yang juga sebuah film yang membumi dengan anak bangsa ini sehingga mendapat respon yang besar dari masarakat tanah air ini.
dari sini kita tahu bahwa selama ini film2 yg beredar di negara ini tidak memenuhi selera kebutuhan masyarakat Indonesia. tentunya kita tahu yang mereka ikuti adalah trend atau selera dunia internasional. hal ini bisa terjadi sebab katanya selera anak bangsa ini adalah selera tradisional atau KAMPUNGAN bagi orang asing..!!!
Wassalam… dari Navo d Riau
navo_lino@yahoo.com
http://www.navopoenya.blogspot.com
Maret 27, 2008 pukul 6:00 pm
thanx ma, namanya juga darah muda, hehehe….
ada kabar baru akhirnya hanung bramantyo memang tak layak diacungi jempol… mahma film itu panjangnya sebenarnya tidak terlalu lama, hanung menambah adegan-adegan gak penting yang buat film menjadi sucks… mana ada adegan maria hidup sehat setelah sakit, seharusnya maria sudah mati..
aku baca jawapos rabu, 26 maret 2008
wis langsung ae tak post nang blog-mu, semua uneg-uneg kuterjawab, kang abik akhirnya tidak tinggal diam sekalian biar blogmu keliatan rame, hehehe… :
Pemain KCB Harus Bisa Ngaji
Chaerul Umam Garap Film Persis Novel
JAKARTA – Sutradara Chaerul Umam dipercaya menggarap film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Pria yang ada di balik sukses film drama komedi Ramadhan dan Ramona itu merasa satu visi dengan cerita yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, pengarang Ayat-Ayat Cinta (AAC). “Banyak mengajarkan kebaikan,” katanya kemarin (25/3).
Beberapa tahun terakhir, kata pria yang akrab disapa Umam tersebut, dirinya memang sudah menentukan sikap untuk membuat karya, khususnya film, yang bernapaskan Islam. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. “Mengingat usia yang tidak lagi muda, sudah saatnya membuat yang bermanfaat,” kata pria kelahiran 4 April 1943 itu.
Sejak membuat keputusan tersebut, Umam rajin mencari cerita islami yang bagus untuk difilmkan. Target utama adalah novel Di Atas Sajadah Cinta dan Ayat-Ayat Cinta. Tapi, keduanya berlalu begitu saja, digarap sutradara lain. Akhirnya, Umam bisa mengucap syukur setelah rumah produksi SinemArt memercayakan penggarapan KCB untuk dirinya. “Alhamdulillah, ini sebuah penghargaan. Pucuk dicinta ulam pun tiba,” ucap sutradara sintron religi Maha Kasih itu.
Bagi Umam, KCB sangat menarik untuk difilmkan. Selain karena ceritanya sangat menarik, konflik di antara tokoh pun tidak vulgar. “Sangat halus. Inner conflict. Saya yang punya latar belakang aktor sangat senang dengan konflik seperti ini. Konflik tidak dirupakan dalam bentuk perkelahian atau marah-marah,” paparnya.
Kalau Hanung Bramantyo sejak awal mengatakan film AAC yang dibuatnya tidak sama persis dengan cerita novel, Umam sebaliknya. “Filmnya akan sama persis dengan novel. Nanti ketika nonton film, orang seperti sedang membaca novel. Tapi, tokoh-tokohnya bergerak,” lanjutnya sambil menambahkan bahwa KCB akan diluncurkan tahun ini juga.
Pemain yang akan memperkuat KCB belum ditentukan. Saat ini, proses casting masih berjalan. Sedikitnya dibutuhkan lima pemain utama. Kang Abik, panggilan Habiburrahman El Shirazy, turut menyeleksi.
Sejumlah syarat sudah ditetapkan. Di antaranya, calon pemain harus sudah membaca novel KCB, bisa mengaji, dan berkepribadian tidak jauh berbeda dengan tokoh yang dimaksud. “Jadi, tidak mungkin orang yang terjerat narkoba memerankan tokoh baik seperti yang ada di novel,” imbuh Kang Abik.
Mengingat AAC ditonton lebih dari 2, 5 juta orang, apakah Umam merasa memiliki beban untuk mencatat sukses serupa? “Soal jumlah penonton, saya tidak bisa memperkirakan. Banyak hal yang membuat sebuah film ditonton banyak orang. Bukan hanya kualitas,” jawabnya.
Meski begitu, Umam berjanji memberikan karya terbaik. “Saya akan membuat film ini indah dan komunikatif. Saya optimistis bisa melakukan. Tapi, saya nggak bisa menjanjikan ditonton banyak orang,” ujarnya.
Dilihat dari angka penjualan buku, Ahmad Munif, perwakilan penerbit Republika, merasa yakin KCB lebih menarik minat pasar daripada AAC. Setelah empat tahun dirilis, AAC terjual sampai 400 ribu eksemplar. KCB mampu mencapai 350 ribu eksemplar di tahun ketiga penjualan.
Sama seperti ketika AAC akan difilmkan, Kang Abik juga meminta beberapa hal sebelum KCB diproduksi. Mulai lokasi syuting yang sebisanya menggambarkan setting novel sampai karakter pemain yang harus sesuai dengan tokoh yang tertuang dalam tulisan. “Sebisanya harus mendekati imajinasi pembaca novel, bahkan lebih,” kata Kang Abik.
Dalam waktu dekat, tim dari SinemArt akan berangkat ke Kairo, Mesir, lokasi yang digambarkan dalam novel KCB. Mereka akan menyurvei tempat. Jika gagal, Tunisia dipilih sebagai alternatif. “Setelah lokasinya dapat, kami akan tetapkan tanggal syuting. Masalah biaya sudah disiapkan,” ungkap Heru Hendriyarto, produser KCB. (gen)
Maret 27, 2008 pukul 6:09 pm
tambahan maneh ma..
hati saya berbunga-bunga ketika kang abik bilang
“Sebisanya harus mendekati imajinasi pembaca novel, bahkan lebih,”
ternyata beliau masih mempedulikan perasaan para pembaca novelnya,,, bahkan perasaannya sendiri yang berasal dari ranah sastra, yang terlahir sebagai seorang novelis sejati…..
Alhamdulillah….
Maret 29, 2008 pukul 1:19 pm
@navo aja:
yang kampungan tuh kayak apa sih? kita sebenernya gak kampungan tapi bangsa kita aja yang song western. cuihh… .
@strezz:
wah gini nih klo sama seniman sufi.salah truzz… . hehehe sori stress klo aku salah, lha aku lho gak baca novelnya. masa tau bedanya apa. thx buat info film KCB. ditunggu aja apa sama dengan AAC. atau ada jontroversi lagi?
Maret 31, 2008 pukul 2:29 am
Pinter juga mahma bikin blognya supaya didatengin banyak orang, tulis aja “Ayat-ayat cinta” traffic dah … hahahaha
April 4, 2008 pukul 6:54 am
@fenty:
hahaha… .iya bener lho terbukti!
Juli 10, 2008 pukul 4:46 pm
Pada intinya Flim nya bagus tapi tak sebagus novelnya, selain menceritakan syiar, cinta dan pendidikan namun flim ini merupakan sebuah kritik sosial yang tengah terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat kita, tapi saya kurang setuju terhadap pemeran fahri, karena kehidupan sehari-hari tak cocok dengan sosok fakhri dengan yang diceritakan didalam flim maupun novel tersebut, sehingga akan melunturkan citra fakhri ditengah-tengah para penggemarnya, dengan alasan bahwa fakhri yang sesungguhnya hanya ada didalam cerita.